“Dasi kupu-kupu membuat saya terlihat baik dan nyaman. Item fashion ini memiliki daya tarik sendiri bagi saya,” ungkap Mo.
Awal mula Mo mengenakan dasi kupu-kupu terjadi saat dia pergi ke sebuah acara formal di lapangan milik tetangga. Dia mulai belajar menjahit dari sang nenek, dan diajari cara membuat dasi kupu-kupu dengan berbagai macam motif dan warna.
Lama kelamaan, Mo mulai mahir. Dasi yang sudah jadi tak hanya dikenakannya sendiri. Beberapa di antaranya dijual. Ternyata banyak yang menyukai karyanya itu. Sampai akhirnya, Mo mendirikan usaha dasi kupu-kupu tersebut. Ia bahkan sudah mempunyai gerai dasi.
Berbagai dasi dipamerkan di sana, dan pengunjung bebas memilih. Mo sering tampak hadir dan ikut berinteraksi langsung dengan para pelanggannya.
Ada karakter unik pada setiap hasil karya Mo. Dia selalu menyelipkan karakter anak-anak. Alhasil, dasinya menjadi kaya warna. Motifnya pun bervariasi, seperti kartun, garis-garis, kotak-kotak, not balok, dan huruf-huruf besar.
Mo menamai dasi-dasinya dengan sebutan yang lucu, seperti GI Bo. Desain milik Mo membutikan bahwa dasi kupu-kupu tak hanya serasi dikenakan orang dewasa, tapi juga cocok untuk anak-anak.Hanya membuat dasi, rupanya tak membuat Mo puas. Dia juga berniat membuka usaha di bidang fashion lainnya. “Saya berencana kuliah di Parsons School of Design di New York City, dan ingin sekali memiliki perusahaan retail pada usia 20 tahun,” jelas Mo, yang memulai usaha Mos’ Bows pada usia sembilan tahun.
[ sumber : di copy dari simomot.com/ -- newzflazz.blogspot.com
0 Komentar